Logo SantriDigital

Kondisi saat ini

Khutbah Jumat
A
Asep Adin
1 Mei 2026 6 menit baca 1 views

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْن...

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Pernahkah Bapak-bapak, Saudara-saudara sekalian mendengar tentang seorang sahabat yang konon katanya kalau berjalan, iblis pun sampai kabur? Beliau adalah Umar bin Khattab radhiyallahu anhu. Saking takutnya iblis, kalau Umar lewat, iblis malah lari terbirit-birit sambil teriak, "Aduh, jangan sampai saya ketemu Umar, nanti saya disuruh ini itu!" Nah, kira-kira kalau ustaz yang menyampaikan khutbah ini lewat, iblisnya takut atau malah senyum-senyum saja? Hehehe. Itu hanya selingan ringan, Bapak-bapak, Saudara-saudara sekalian, agar kita tidak terlalu tegang. Tapi intinya, iblis saja takut sama orang yang bertakwa. Nah, kita ini, iblisnya takut atau malah diajak ngopi bareng, ngobrol ngalor-ngidul sampai lupa waktu? Astaghfirullah. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Kondisi kita saat ini, mari kita lihat barang sejenak. Dunia ini semakin cepat berputar, semakin canggih teknologinya. Dulu kita kalau mau ketemu teman, harus naik sepeda ontel, kadang nyasar, nyari rumahnya sampai berjam-jam. Sekarang, tinggal pencet HP, sudah bisa video call, malah bisa lihat tetangga lagi masak apa di dapur. Tapi, coba kita hitung, seberapa banyak waktu yang kita habiskan untuk *scrolling* media sosial dibandingkan dengan membaca Al-Qur'an? Seberapa sering kita tertawa terpingkal-pingkal melihat video lucu, dibandingkan dengan tersenyum haru saat mendengar ayat suci dibacakan? Jangan-jangan, kita lebih akrab sama *hashtag* daripada sama *hadits*. Nauzubillah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'anul Karim: "وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ" (Ketahuilah, sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.) (QS. Al-Anfal: 28) Kita seringkali rela berkorban waktu, tenaga, bahkan mungkin uang, demi anak-anak kita. Sekolah di sekolah termahal, les ini-itu, dibelikan mainan yang paling canggih. Itu bagus, sungguh bagus. Tetapi, pernahkah kita berpikir, seberapa besar "investasi" kita untuk akhirat anak-anak kita? Seberapa sering kita mengajarkan mereka tentang Allah, tentang Rasul-Nya, tentang pentingnya salat, tentang adab makan dan minum sesuai sunnah? Kadang kita malah lebih pusing kalau rapor anak merah daripada kalau salatnya bolong-bolong. Sungguh ironis, seperti dokter yang sibuk mengobati luka kecil di jari, tapi membiarkan jantungnya berdetak tak beraturan. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Zaman sekarang ini, godaan datang dari mana saja. Buka HP, iklan pornografi muncul. Buka berita, berita penuh kepalsuan. Zikir kita mungkin kalah cepat dengan notifikasi dari aplikasi *game online*. Kita berdebat sengit di grup WhatsApp tentang hal-hal yang tidak penting, tapi diam seribu bahasa saat diajak diskusi tentang agama. Kita sibuk mencari *followers* dan *likes* di dunia maya, tapi lupa menambah amal kebaikan di dunia nyata. Bukankah ini seperti orang yang sibuk menata perabot di kapal yang bocor? Menata dengan rapi sampai akhirnya kapal itu tenggelam bersama semua perabotnya. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: "مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِأَسْرِهَا." (Barangsiapa di antara kalian bangun di pagi hari dalam keadaan aman rumahnya, sehat badannya, dan memiliki makanan sehariannya, maka seolah-olah dunia seisinya telah dikumpulkan untuknya.) (HR. Tirmidzi) Bayangkan, Bapak-bapak, Saudara-saudara sekalian. Kita ini sebenarnya sudah diberikan harta karun yang luar biasa oleh Allah. Kita bangun pagi dalam keadaan sehat, tidak ada yang mengejar-ngejar kita, perut terisi roti (atau nasi uduk, hehehe). Itu artinya, kita sudah punya "dunia seisinya". Tapi kadang kita ini seperti orang kaya yang terus mengeluh miskin, lupa bahwa dia punya tabungan emas yang tak terhingga. Seharusnya kita bersyukur, bukan menggerutu. Seharusnya kita gunakan kenikmatan ini untuk beribadah, bukan malah terbuai dalam kelalaian. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Mari kita renungkan. Dulu, para sahabat, mereka rela meninggalkan rumah, harta, keluarga, demi menyebarkan cahaya Islam. Mereka rela dipukul, dicaci maki, bahkan diancam dibunuh. Tapi kita? Jangankan meninggalkan harta, kadang untuk infak sedikit saja mikirnya sepuluh kali. "Ini di masjid, nanti ke gereja nggak dapat diskon." Ya Allah, kemana logika kita? Kita takut kehilangan uang receh, tapi tidak takut kehilangan pahala yang berlimpah ruah. Ini seperti orang yang menjaga tas berisi batu kerikilnya dengan sekuat tenaga, tapi membiarkan harta karun di sebelahnya diambil orang lain tanpa perlawanan. Ingatlah firman Allah: "فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ" (Maka apabila datang kepada mereka karunia (kesenangan), mereka berkata: "Ini adalah hak kami." Dan jika mereka ditimpa kesialan, mereka berkata: "Ini disebabkan oleh kesialanmu (musa dan pengikutnya)"). Padahal sesungguhnya kesialan mereka itu adalah dari sisi Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.) (QS. Al-A'raf: 131) Kita seringkali menyalahkan orang lain kalau ada masalah. "Ah, ini gara-gara si anu!" "Ini gara-gara tetangga sebelah!" Padahal, seringkali masalah itu datang dari diri kita sendiri, dari kurangnya zikir kita, dari banyaknya maksiat kita, dari hati kita yang lalai dari mengingat Allah. Seperti orang yang disengat lebah, malah menyalahkan pohonnya, padahal dia sendiri yang nekat mencolek sarangnya. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Bayangkan sebentar saja, Bapak-bapak, Saudara-saudara sekalian. Malaikat Izrail alaihissalam datang. Coba kita bayangkan muka beliau. Pasti sangar, seram, kan? Mungkin seperti satpam yang lagi galak nagih uang keamanan. Hehehe. Siapa yang siap kalau beliau datang sekarang juga? Siapa yang sudah menyiapkan "bekal" untuk menghadap Allah? Kalau kita disuruh berdiri di depan hakim agung dengan pakaian lusuh dan tanpa membawa bukti pembelaan, bagaimana perasaan kita? Itulah yang akan kita hadapi kelak. Dan di sisi lain, Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Saking sayangnya, Allah sampai menurunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk. Saking sayangnya, Allah membuka pintu tobat seluas-luasnya. Allah berfirman: "قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ" (Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malang yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, karena sesungguhnya Allah mengampunkan segala dosa, dan Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.) (QS. Az-Zumar: 53) Lihatlah, Bapak-bapak, Saudara-saudara sekalian. Allah memanggil kita, "Ya 'ibadi" (Wahai hamba-hamba-Ku). Panggilan mesra itu loh! Dan Allah berjanji akan mengampuni semua dosa, bahkan yang "melampaui batas". Ini seperti promosi besar-besaran di toko kue terenak, "Semua diskon 99%!". Siapa yang tidak mau? Tapi sayangnya, banyak dari kita yang sibuk mengurus diskon baju lebaran, tapi lupa mengurus diskon dosa di hadapan Allah. Maka, marilah kita bangkit. Bangkit dari kelalaian kita. Bangkit dari tidur panjang kita. Bangkit dari kesibukan dunia yang melenakan. Gunakanlah sisa usia kita ini untuk mencari keridhaan Allah semata. Jangan sampai kita menyesal di hari penyesalan. Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudari sekalian. Mari kita luangkan waktu sebentar saja setiap hari, bukan hanya di hari Jumat, untuk merenungi kebesaran Allah. Mari kita mulai dari yang kecil. Mungkin dengan memperbaiki bacaan Al-Qur'an kita, menambah satu ayat setiap hari. Mungkin dengan lebih khusyuk saat salat, mengerti arti setiap gerakan. Mungkin dengan tersenyum kepada sesama, sedekah walau hanya selembar senyuman. Ingatlah, Bapak-bapak, Saudara-saudara sekalian. Syaitan itu licik. Dia akan terus menggoda kita agar kita berputus asa dari rahmat Allah. Tapi Allah lebih besar dari segalanya. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →